Kami ingin merawat anak Indonesia sebaik-baiknya tanpa mengejar parenting impor. Dengan empati. Dengan ilmu. Dengan tempe.
Pendiri kami, Irma, sedang MPASI anak pertama. Setiap pukul 5 sore, dia membuka enam aplikasi: satu untuk resep (impor), satu untuk milestone (kalkulator Inggris), satu untuk imunisasi (PDF Kemenkes), satu untuk catatan harian (Notes), satu untuk foto (Album), dan satu untuk pertanyaan ke dokter (WhatsApp).
Tidak satupun yang bilang "Bunda, tempe juga boleh, kok".
Irma menulis ke grup ibu-ibu di kompleks. Empat orang menjawab dalam 10 menit. Tiga bilang mereka sudah berhenti pakai aplikasi-aplikasi itu. Satu bilang dia sebenarnya seorang engineer.
Itu adalah engineer kami yang pertama.
Mama Asuh saat ini dibangun oleh tim kecil pendiri. Kami sedang membentuk dewan medis (dokter anak konsultan, ahli gizi anak) dan akan menampilkan nama-nama tersebut di sini begitu kesepakatan formal selesai.
"Bunda" dan "si kecil", bukan "ibu pengguna" dan "subjek". Bahasa boleh sederhana, tapi ilmu tetap teliti.
MPASI dengan tempe, ikan kembung, daun kelor — bukan avocado toast. Aktivitas dengan panci & kain perca — bukan mainan Montessori.
Tidak pernah dijual. Tidak pernah dipakai iklan terarah. Foto default lokal. Anda yang putuskan.
Setiap resep, milestone, jadwal vaksin yang tayang sudah disetujui dokter anak. AI hanya membantu pencarian, bukan keputusan.
Mama Asuh sedang dalam tahap akses awal. Berikut konten yang sudah tersedia di rilis pertama, semua dikurasi referensi resmi Kemenkes/IDAI/WHO.
Remote-friendly. Cuti pengasuhan 4 bulan untuk semua orang tua (termasuk ayah). Asuransi keluarga.